Renungan Selasa 19 Maret – Hari Raya St Yusuf.
Bacaan: 2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Mzm 89:2-3.4-5.27.29; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a
Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. (Matius 1:19)
Ketika mengetahui Maria mengandung bayi yang bukan anaknya, Yusuf mengalami suatu pergumulan. Ia sangat mengasihi Maria dan tidak ingin Maria celaka. Ia sangat menghormati kehidupan Maria. Akhirnya ia memutuskan menceraikannya dengan pergi meninggalkan Maria diam-diam. Malaikat Tuhan datang dalam mimpinya. Yusuf akan menjadi ayah Yesus, dan Ia yang memberi nama pada anak yang dilahirkan Maria.
Walaupun sabda Tuhan datang melalui mimpi, namun Yusuf taat pada kehendak Allah. Tanpa mengeluh dan tawar menawar, Yusuf memulai pelayanannya. Pelayanan yang penuh tantangan:
1. Meninggalkan kenyamanannya, seorang pria sejati yang menjadi pelayan dalam bayang-bayang. Ia dapat meninggalkan Maria dan menikah dengan wanita lain. Namun ia setia dan taat pada kehendak Allah. Ia menjadikan Maria dan Yesus sebagai pusat hidupnya.
2. Menghormati Maria tanpa bersetubuh dengan istrinya tersebut sampai akhir hayatnya (Matius 1:25) karena sejak gadis kecil Maria memiliki kaul kemurnian. Dengan memberikan keseluruhan jiwa dan tubuhnya kepada Allah, Bunda Maria memusatkan perhatiannya kepada perkara-perkara surgawi, tanpa terbagi dengan perkara-perkara duniawi (1Kor 7:34) Tantangan yang berat bagi seorang laki-laki namun Yusuf menjalaninya dengan penuh kasih dan rendah hati.
3. Malaikat Tuhan datang kepada Yusuf dalam mimpi dan memintanya membawa Anak itu serta ibu-Nya lari ke Mesir karena Herodes akan membunuh Dia (Matius 2:13). Yusuf dengan sigap memimpin keluarganya, tanpa mengeluh. Demikian pula pada saat Herodes mati dan ia membawa keluarganya ke Nazaret (Mat 2:20). Perjalanan yang ditempuh cukup berat. Bepergian jarak jauh dengan membawa anak kecil, walau belum tahu bisa makan apa, mau kerja apa dsb. Imannya yang sangat kuat akan pemeliharaan Tuhan yang membuatnya tetap setia.
4. Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan (Lukas 2:22). Yusuf taat pada hukum Tuhan.
5. Saat Yesus diketemukan dalam Bait Allah, semua orang yang mendengar Yesus sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya (Lukas 2:47). Yusuf telah mendidik Yesus kecil dengan baik.
Pelayanan Yusuf dilakukan dengan ketergantungan penuh pada Allah. Ia tidak bersandar pada diri sendiri. Iman, rasa tanggung jawab dan kasihnya yang menghantarkannya menjadi pelindung keluarga kudus. Kerendahan hatinya membuat pelayanannya berpusat pada Yesus dan Maria, tanpa menonjolkan dirinya. Bukan berpusat pada beban dan masalah yang terjadi.
Semuanya dilakukan dalam diam, tenang namun fokus, sigap, aktif dan produktif. Mari kita belajar seperti Santo Yusuf, yang melayani dalam diam, mengandalkan Tuhan bukan diri sendiri. Kehidupan kita mungkin tidak selalu mulus, ada masalah yang harus dilalui. Jangan berpusat pada masalah itu, berpusatlah pada Tuhan dan mohon kekuatan untuk mampu melaluinya dengan penuh iman.
Tuhan terima kasih boleh belajar dari Bapa-Mu. Tambahkan iman kami agar fokus pada kemuliaan nama-Mu saja. Biarlah beban dan masalah kami berlalu bukan sesuai dengan kehendak-ku, namun kehendak-Mu lah yang terjadi. Berilah kerendahan hati, iman, kasih dan pengharapan, amin (FPID)