SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Senin, 1 April 2024

Kis. 2 :14, 22-32 ; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11 ; Mat. 28:8-15
” Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”. ( Kisah para rasul  2:32 ) 
Kita baru saja selesai merayakan Pekan Suci. Mengenang dan menghayati kembali makna peristiwa dimana Yesus mengalami sengsara, disalibkan, wafat dan bangkit. ( Seperti tertulis dalam Alkitab dan credo Katolik ).
Kalangan tertentu, yang hidup 6 abad kemudian, meragukan kebenaran akan peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus. Mereka mengkritik bahwa yang disalib sebenarnya bukan nabi Isa ( Yesus ) tetapi orang  yang diserupakan ( mirip ). Oleh karena itu tidak ada yang namanya peristiwa kebangkitan Yesus juga. Padahal mereka juga tidak bisa memastikan siapa identitas orang tersebut dan kapan pergantiannya. Bahkan sampai sekarang argumen-argumennya pun simpang siur. Kenyataannya, bukan hanya Alkitab tapi sejarah juga mencatat bahwa peristiwa penyaliban Yesus *disaksikan* oleh banyak orang selain para serdadu Romawi, murid dan pengikut Yesus. Bahkan para imam kepala di mahkamah agama pun pernah menyuap para serdadu Romawi yang menjaga kubur Yesus supaya menutupi peristiwa kebangkitan Yesus dengan cerita bahwa murid-murid-Nya lah yang mencuri jenazah Yesus. Padahal mereka tidak bisa menemukan jenazah Yesus. Bahkan sampai dengan saat ini pun jenazah atau tulang-tulang Yesus tidak bisa ditemukan. Dalam kisah para Rasul, Petrus mengatakan dengan tegas,” Yesus inilah yang dibangkitkan Allah dan tentang hal ini kami semua adalah saksi”.
Setiap kali dalan misa Paskah, kita memadahkan doa syukur pembuka “Bersoraklah nyanyikan kidung pujian … Bersyukurlah kepada Allah, kita bangkit bersama Kristus”. Kritik-kritik tajam terhadap iman kita itu adalah hal biasa. Justru yang penting sekarang adalah apakah kita sungguh-sungguh mau “bangkit” bersama Kristus? Dengan kata lain sampai sejauh mana kita sudah menerapkan semangat kebangkitan Yesus dalam kehidupan sehari-hari? Mulailah dengan mengurangi melakukan dosa-dosa “langganan” yang sering kita akukan dalam sakramen tobat. Walau gagal kita harus bangkit kembali. Jangan jemu melakukan kebaikan. Allah pasti dapat melihat semangat kita untuk bangkit melakukan yang terbaik. Para Rasul sudah menjadi saksi hidup tentang kebangkitan Yesus. Sekaranglah giliran kita yang hidup untuk bersaksi melalui tindakan nyata. Selamat Paskah. (MYLO)